Selasa, 19 Oktober 2010

Analisis Kasus organisasi "KASIH" ditinjau dari perspektif psikologi sosial

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Suatu organisasi “KASIH” yang bergerak dalam kegiatan membantu masyarakat yang terkena bencana alam dan mengalami trauma karenanya. Organisasi ini, memiliki 22 orang anggota yang terdiri dari 4 orang dokter; 4 orang psikolog; 6 orang sarjana psikologi; 2 orang sarjana komputer; 2 orang sarjana manajemen; 1 orang sarjana teknik mesin; 1 orang lulusan D3 manajemen dan 2 orang lulusan SMU. Mereka terdiri dari 8 orang pria dan 14 orang wanita dengan kisaran usia, berkisar antara 20 tahun sampai 32 tahun. Mereka bertugas menangani masalah yang berkaitan dengan kesehatan fisik masyarakat seperti pelayanan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan. Sementara untuk bantuan psikososial dilakukan konseling baik individual ataupun kelompok, juga membantu anak-anak dalam pengembangan kepribadiannya. Bantuan material bagi para korban bencana alam antara lain menyalurkan bantuan dari donor. Untuk kelangsungan dari kegiatan organisasi tersebut, diangkatlah dari mereka seorang manajer lapangan (yaitu yang lulusan D3 manajemen); seorang koordinator kegiatan medis (dokter) dan seorang koordinator kegiatan psikososial (psikolog), sementara koordinator untuk logistik (baik untuk bantuan pada masyarakat ataupun bagi kepentingan kegiatan organisasi) dipegang oleh sarjana teknik mesin. .
Pada awal berjalannya organisasi KASIH ini, kegiatan – kegiatan yang ada dikerjakan bersama, dalam arti bahwa jika dalam satu lokasi ada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan medis, maka disitupun dilakukan kegiatan psikososial dan jika dilokasi itu dilaksanakan kegiatan psikososial, maka pelayanan medispun akan ada dilokasi itu. Demikian pula bantuan material akan diberikan pada masyarakat dilokasi tersebut jika mereka membutuhkan dan memang organisasi ini memiliki materi tersebut atau mengusahakan pemenuhannya.
Dengan kondisi seperti diatas, maka tampak bahwa mereka adalah tim yang kompak dalam menjalankan tugas dan memang demikian adanya pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, (setelah satu tahun berlangsungnya kegiatan) organisasi ini mulai menunjukkan gejala perpecahan, dimana masing – masing profesi mau berjalan sendiri dan tidak lagi memperhatikan profesi yang lain. Bahkan diskusi-diskusi tentang kasus atau masalah yang adapun tidak pernah dilakukan bersama lagi. Beberapa kali pernah dicoba, tetapi yang terjadi adalah diskusi dan debat yang tak memecahkan masalah , karena masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain. Tidak jarang situasi mengarah pada konflik yang diwarnai oleh reaksi-reaksi emosi negatif .
Pimpinan (manajer lapangan) sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya. Dengan kondisi ini, koordinator kegiatan harus menghadapi keluhan dari anak buahnya karena tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaan disiplin ilmu mereka. Kondisi tidak nyaman itu tidak hanya dirasakan oleh para koordinator kegiatan, tetapi dirasakan juga oleh semua anggota organisasi, sehingga suasana dalam organisasi menjadi sangat tidak nyaman untuk bekerja. Belum lagi masalah personal anggota organisasi, seperti adanya anggota yang pacaran dengan sesama anggota dan mereka menampilkan perilaku yang tidak diharapkan oleh anggota lainnya. Seperti misalnya; mereka sering memisahkan diri dari anggota lain untuk pacaran atau bahkan kadang mereka berlaku mesra dihadapan anggota lainnya yang tentunya akan membuat anggota lain merasa kurang enak sehingga hal inipun menambah ketidak nyamanan suasana. Kondisi seperti ini sudah berjalan cukup lama dan berdampak menurunnya kinerja organisasi secara keseluruhan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pimpinan organisasi KASIH meminta bantuan pada yayasan PEDULI, yaitu LSM yang bergerak dalam kajian perilaku dan pengembangan sumber daya manusia. Setelah mendengar keluhan dari organisasi KASIH, maka yayasan PEDULI memperoleh gambaran dan menduga adanya :
• Masalah regulasi emosi aversive serta ekspresinya dalam perilaku pada situasi-situasi yang mengandung perbedaan dan pertentangan pendapat.
• Masalah kemampuan melakukan perspective taking
• Masalah yang menyangkut kemampuan dalam komunikasi interpersonal
• Masalah kompetensi sosial dalam mengatasi dan menyelesaikan perbedaan yang dipertentangkan (konflik)
• Masalah produktivitas organisasi yang menurun
• Masalah interaksi antar unit kerja (kelompok kerja)

1.2 Area Masalah

Bila ditinjau dari perspektif Psikologi Sosial, terdapat 5 area masalah dalam kasus diatas, yakni:
1) Social Cognition
Berpikir tentang orang lain dan dunia kita, kita akan memahami lingkungan dan situasi yang kita hadapi sesuai dengan kondisi yang ada.

2) Emotional Competence
Kemampuan meregulasi internal feeling state dan ekspresinya dalam tingkah laku aktual.

3) Social Competence
Merupakan kemampuan individu untuk mencapai tujuan pribadi dalam interaksi sosial sekaligus memelihara relasi yang baik atau harmonis dengan orang lain, setiap saat dan situasi (Krasnor, 1977)

4) Perilaku Kelompok

Perilaku kelompok merupakan respon-respon anggota kelompok terhadap struktur sosial kelompok dan norma yang diadopsinya.




1.3 Masalah

1.3.1 Masalah dalam area Social Cognition
o Masalah kemampuan melakukan perspective taking

1.3.2 Masalah dalam area Emotional Competence
o Masalah regulasi emosi aversive serta ekspresinya dalam perilaku pada situasi-situasi yang mengandung perbedaan dan pertentangan pendapat.

1.3.3 Masalah dalam area Social Compentence
o Masalah yang menyangkut kemampuan dalam komunikasi interpersonal
o Masalah kompetensi sosial dalam mengatasi dan menyelesaikan perbedaan yang dipertentangkan (konflik)

1.3.4 Masalah dalam area Perilaku dalam Kelompok
o Masalah produktivitas organisasi yang menurun
o Masalah interaksi antar unit kerja (kelompok kerja)

1.4 Masalah yang akan dibahas

Masalah yang akan dibahas dalam analisis kasus organisasi “KASIH” diatas adalah masalah yang terdapat dalam area perilaku kelompok, yakni interaksi yang terjadi antar unit kelompok yang terdapat dalam organisasi “KASIH” , dimana perilaku kelompok menentukan bagaimana pola interaksi yang akan terjadi dalam kelompok tersebut. Berdasarkan fenomena yang terdapat dalam kasus organisasi “KASIH” di atas, masalah tersebut terjadi setelah satu tahun berlangsungnya kegiatan dan terlihat dalam hal-hal berikut ini:
• Organisasi ini mulai menunjukkan gejala perpecahan, dimana masing – masing profesi mau berjalan sendiri dan tidak lagi memperhatikan profesi yang lain.
• Diskusi-diskusi tentang kasus atau masalah yang adapun tidak pernah dilakukan bersama lagi.
• Terjadinya perdebatan yang tidak memecahkan masalah (karena masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain).
• Tidak jarang situasi diskusi mengarah pada konflik yang diwarnai oleh reaksi-reaksi emosi negatif .
• Pimpinan (manajer lapangan) sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai
• Masalah personal anggota organisasi, seperti adanya anggota yang pacaran dengan sesama anggota dan mereka menampilkan perilaku yang tidak diharapkan oleh anggota lainnya.
• Menurunnya kinerja organisasi secara keseluruhan.
• Diangkatnya manajer lapangan (pimpinan) lulusan D3 yang membawahi anggota lulusan Sarjana.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Perilaku kelompok merupakan respon-respon anggota kelompok terhadap struktur sosial kelompok dan norma yang diadopsinya.

Perilaku kelompok dipengaruhi oleh :
1. Kondisi eksternal
Kondisi eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku kelompok diantaranya yaitu :
a. Strategi organisasi
Strategi keseluruhan suatu organiasi, yang lainnya diberlakukan oleh manajemen puncak, mengikhtisarkan tujuan organisasi dan cara untuk mencapai tujuan ini.
b. Peraturan formal
Organisasi menciptakan aturan, prosedur, kebijakan, dan ragam lain dari peraturan untuk membakukan perilaku karyawan. Makin formal peraturan yang dipaksakan oleh organisasi itu kepada semua anggotanya, makin konsisten dan dapat diramalkan perilaku anggota kelompok kerja itu.
c. Sumber daya organisasional
Yang termasuk sumber daya organisasional adalah uang, waktu, bahan baku dan peralatan (yang dialokasikan kepada kelompok oleh organisasi).
d. Evaluasi kinerja dan sisterm ganjaran
Perilaku anggota kelompok akan dipengaruhi oleh bagaimana organisasi itu mengevaluasi kinerja dan perilaku mana yang aakan diganjar.
e. Budaya organisasional
Semua organisasi mempunyai budaya tak tertulis yang mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat diterima baik dan yang tidak untuk para karyawan.





2. Sumber daya anggota kelompok
a. Kemampuan
Kemampuan menentukan parameter untuk apa yang dapat dilakukan para anggota dan bagaimana mereka akan melakukannnya secara efektif dalam suatu kelompok.
b. Karakteristik kepribadian
Karakteristik kepribadian berpengaruh terhadap kinerja kelompok yang nantinya akan mempengaruhi bagaimana individu itu berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain.

3. Struktur kelompok.
a. Kepemimpinan formal
Hampir setiap kelompok kerja memiliki seorang pemimpin formal yang dapat memainkan peranan penting dalam keberhasilan kelompok.
b. Peran
Seperangkat pola perilaku yang diharapkan yang dikaitkan pada seeorang yang menduduki suatu posisi tertentu dalam suatu unit sosial.
c. Norma
Standar peilaku yang dapat diterima, baik dalam suatu kelompok yang digunakan bersama oleh anggota-anggota kelompok itu.
d. Status
Posisi atau peringkat yang didefinisikan secara sosial yang diberikan kepada kelompok atau anggota kelompok oleh orang lain.
e. Kepaduan
Tingkat dimana anggota-anggota kelompok satu sama lain saling tertarik dan termotifasi untuk tetap berada dalam kelompok.







4. Proses kelompok
Proses kelompok merupakan aktivitas yang memberikan kehidupan bagi bekerjanya atau berjalannya struktur organisasi.
a. Pola komunikasi
Komunikasi interpersonal merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka (R Wayne Pace).
b. Proses pengambilan keputusan
Proses pengambilan keputusan bisa dianggap sebagai :
• premising,
• pengidentifikasian alternatif-alternatif,
• pengevaluasian alternatif-alternatif dalam rangka mencapai tujuan, dan
• pemilihan sebuah alternatif.
c. Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan menurut White dan Lippit (1960) dibagi menjadi 3 jenis, diantaranya adalah gaya kepemimpinan otoriter dimana keputusan dan kebijakan seluruhnya ditentukan oleh pemimpin.
d. Dinamika kekuasaan
Dinamika kekuasaan berkaitan dengan kepemimpinan, dimana pengertian dari kepemimpinan itu sendiri menurut K. F. Janda (1960) adalah tipe khusus hubungan kekuasaan yang ditandai oleh adanya anggota kelompok lain yang memiliki hak untuk menentukan pola perilaku aktivitas anggota kelompok.
e. Manajemen stress dan konflik
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya konflik dalam kelompok, yaitu expressed struggle, interdependence dan incompatible behavior.





5. Kinerja kelompok
Seberapa jauh kelompok dapat memenuhi kebutuhannya melalui keberhasilan mereka di dalam mencapai goal (efektifitas kelompok)..
Faktor-faktor penentu efektifitas kelompok :
a. Honesty (kejujuran)
c. Belongingness (rasa memiliki)
d. Quality of relationship (kualitas hubungn)
e. Partisipation
f. Clear enggaging direction\open communication and mutual trust.
g. Supportive team environment, supportive organization environment
h. Appropriate mix
i. Laeadership
j. High energy level
k. Availability of process support.





BAB III
PEMBAHASAN

Terciptanya interaksi yang baik dalam kelompok tidak terlepas dari pengaruh model perilaku yang ada dalam kelompok tersebut. Interaksi dalam kelompok bisa menghasilkan ide dan solusi baru. Kelompok memiliki pengetahuan yang luas dan probabilitas yang lebih besar bahwa seseorang dalam kelompok akan memiliki pengetahuan khusus yang relevan dengan persoalan kelompok. Namun demikian, kelompok juga tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Dalam kelompok pun ada saatnya dimana tidak semua orang memberikan kontribusi secara bersamaan.
Berdasarkan kasus diatas, terlihat adanya interaksi antar kelompok yang baik. Pada awal berjalannya organisasi “KASIH” tersebut, kegiatan – kegiatan yang ada dikerjakan bersama, dalam arti bahwa jika dalam satu lokasi ada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan medis, maka disitupun dilakukan kegiatan psikososial dan jika dilokasi itu dilaksanakan kegiatan psikososial, maka pelayanan medispun akan ada dilokasi itu. Demikian pula bantuan material akan diberikan pada masyarakat dilokasi tersebut jika mereka membutuhkan. Dengan kondisi seperti diatas, maka tampak bahwa mereka adalah tim yang kompak dalam menjalankan tugas.
Namun setelah satu tahun berlangsungnya kegiatan organisasi ini mulai menunjukkan gejala perpecahan. Gejala perpecahan tersebut diakibatkan oleh perilaku-perilaku kelompok yang membuat interaksi antar kelompok tersebut tidak berjalan dengan baik. Dalam kasus organisasi “KASIH”di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dalam kelompok yang pada akhirnya mempengaruhi interaksi antara anggota kelompok tersebut diantaranya adalah :
1. Kondisi eksternal
Tidak dapat dielakkan bahwa kondisi eksternal sangat mempengaruhi model perilaku kelompok organisasi “KASIH” tersebut, misalnya seperti strategi organisasi, peraturan formal, sumber daya organisasi, evaluasi kinerja dan sistem ganjaran, dan budaya organisasional.


a. Strategi organisasi
Tujuan organisasi “KASIH” tersebut adalah membantu masyarakat yang terkena bencana alam dan mengalami trauma. Strategi yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi “KASIH” tersebut diantaranya adalah dengan cara membentuk kelompok sesuai dengan bidangnya masing-masing, juga para anggota kelompok ini terjun ke lapangan secara bersama-sama dalam melakukan tugasnya untuk membantu para korban bencana. Namun setelah satu tahun berjalannya organisasi ini, terlihat adanya perilaku-perilaku kelompok yang tidak sesuai dengan strategi dalam mencapai tujuan. Berdasarkan kasus diatas terlihat perilaku-perilaku kelompok yang tidak sesuai dengan strategi dalam mencapai tujuan, yaitu
• Masing – masing profesi mau berjalan sendiri dan tidak lagi memperhatikan profesi yang lain.
• Diskusi-diskusi tentang kasus atau masalah yang ada tidak pernah dilakukan bersama lagi.

b. Peraturan formal
Dalam kasus di atas tidak terlihat adanya peraturan formal yang dibuat oleh organisasi “KASIH” kepada semua anggota kelompoknya, sehingga menyebabkan perilaku anggota kelompok tersebut tidak konsisten dalam melakukan pekerjaannya. Ketidak konsistenan dalam melaksanakan tugas tersebut terlihat saat mereka tidak lagi bekerja sama antar kelompok setelah tahun pertama, padahal pada awal tahun pertama mereka bekerja secara bersama-sama terjun ke lapangan untuk membantu korban bencana.

c. Sumber daya organisasional
Pada organisasi “KASIH” terdapat sumber daya organisasional yang memadai, seperti materi, waktu, bahan baku dan peralatan (yang dialokasikan kepada kelompok oleh organisasi “KASIH”). Namun pada kenyataannya sumber daya organisasional yang memadai ini tidak menjadi faktor pendukung bagi terciptanya perilaku kelompok yang baik dalam mencapai tujuan organisasi “KASIH”, yang mana di akhir tahun pertama terlihat adanya gejala perpecahan antar kelompok.

d. Evaluasi kinerja dan sisterm ganjaran
Perilaku anggota kelompok akan dipengaruhi oleh bagaimana organisasi itu mengevaluasi kinerja dan perilaku mana yang akan diganjar. Dalam kasus di atas tidak terlihat adanya pemberian evaluasi kinerja dari pimpinan terhadap anggota kelompok juga tidak terlihat adanya batasan-batasan perilaku mana saja yang akan diganjar jika menghambat tercapainya tujuan kelompok. Tidak adanya evaluasi kinerja dalam perilaku kelompok terlihat saat gejala perpecahan berlangsung cukup lama namun tidak ada penanganan secara dini dari pihak organisasi, sehingga hal ini mengakibatkan kinerja anggota kelompok yang menurun.
Belum lagi adanya masalah-masalah personal seperti adanya anggota yang pacaran dengan sesama anggota dan mereka menampilkan perilaku yang tidak diharapkan oleh anggota lainnya. Seperti misalnya; mereka sering memisahkan diri dari anggota lain untuk pacaran atau bahkan kadang mereka berlaku mesra dihadapan anggota lainnya yang tentunya akan membuat anggota lain merasa kurang enak sehingga hal inipun menambah ketidak nyamanan suasana. Tidak adanya ganjaran bagi anggota yang berpacaran tersebut berdampak pada menurunnya kinerja organisasi secara keseluruhan.

e. Budaya organisasional
Pada kasus yang terdapat pada organisasi “KASIH” di atas, terlihat bahwa anggota kelompok yang berpacaran dan terkadang berlaku mesra di depan anggota kelompok yang lainnya tersebut, tidak mengindahkan adanya budaya organisasional yakni budaya tak tertulis yang mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat diterima baik dan yang tidak untuk para anggotanya. Perilaku berpacaran mereka tersebut tidak diharapkan oleh anggota kelompok yang lainnya. Perilaku mesra dihadapan anggota lainnya membuat anggota lain merasa kurang enak sehingga hal inipun menambah ketidak nyamanan suasana sehingga mempengaruhi kinerja anggota kelompok yang semakin menurun.
2. Sumber daya anggota kelompok
a. Kemampuan
Berdasarkan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh para anggota organisasi kasih menunjukkan bahwa mereka berkemampuan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Misalnya seorang dokter diposisikan sebagai koordinator kegiatan medis, seorang psikolog diposisikan sebagai koordinator kegiatan psikososial, sementara koordinator untuk logistik (baik untuk bantuan pada masyarakat ataupun bagi kepentingan kegiatan organisasi) dipegang oleh sarjana teknik mesin. Namun untuk manajer lapangan diduduki oleh seorang anggota lulusan D3 manajemen. Latar belakang pendidikan D3 inilah yang tidak sesuai dengan kemampuan untuk menduduki jabatan manajer lapangan, padahal dari data terlihat bahwa terdapat 2 orang sarjana manajemen yang lebih memungkinkan untuk menempati posisi sebagai pemimpin atau manajer lapangan dalam organisasi “KASIH”.
Pada kasus diatas, latar belakang D3 yang dimiliki oleh pimpinan (manajer lapangan) inilah yang menyebabkan ia sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai. Hal tersebut menyebabkan koordinator kegiatan harus menghadapi keluhan dari anak buahnya karena tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaan disiplin ilmu mereka.

b. Karakteristik kepribadian
Karakteristik kepribadian berpengaruh terhadap kinerja kelompok yang nantinya akan mempengaruhi bagaimana individu itu berinteraksi dengan anggota kelompok yang lain. Dalam kasus diatas, terlihat adanya karakteristik kepribadian yang negatif yang ditunjukkan saat masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain. Tidak jarang situasi mengarah pada konflik yang diwarnai oleh reaksi-reaksi emosi negatif .




3. Struktur kelompok.
Kelompok kerja bukanlah gerombolan yang tidak terorganisasi. Kelompok kerja mempunyai suatu struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan bagian besar dari perilaku individual di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. Yang termasuk dalam variabel struktur kelompok adalah kepemimpinana formal, peran, norma, status, ukuran serta kepaduan.

a. Kepemimpinan formal
Hampir setiap kelompok kerja memiliki seorang pemimpin formal yang dapat memainkan peranan penting dalam keberhasilan kelompok. Begitu juga organisasi “KASIH” diatas, memiliki seorang pemimpin formal yaitu seorang manajer lapangan yang menjadi pemimpin bagi seluruh koordinator beserta dengan para anggotanya, yaitu seorang lulusan D3 manajemen. Namun, kepemimpinan formal tersebut kurang memainkan peranan dalam menghasilkan keberhasilan kelompok.

b. Peran
Masing-masing orang di dalam kelompok memiliki peran masing-masing. Baik sebagai pemimpin, maupun yang dipimpin. Dan masing-masing orang yang ada dalam kelompok bekerja sesuai perannya masing-masing. Begitu pula organisasi “KASIH”, organisasi ini memiliki pemimpin dan anggota organisasi. Namun Pimpinan (manajer lapangan) organisasi ini sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya. Hal ini memperlihatkan peran pemimpin yang seharusnya dapat menghasilkan kebijakan yang baik bagi seluruh bagian dari organisasi tidak terpenuhi sehingga mengakibatkan kondisi yang kurang nyaman di dalam lingkungan organisasi. Karena hal ini juga peran koordinator kegiatan yang seharusnya dapat menjadi penghubung yang baik antara pimpinan dengan anggotanya tidak maksimal.

c. Norma
Di dalam organisasi terdapat peraturan tidak tertulis atau standar tertentu yang menentukan dapat diterima atau tidaknya suatu perilaku di dalam organisasi yang digunakan oleh seluruh anggota organisasi. Pada organisasi “KASIH” ini terdapat masalah yang berkaitan dengan pelanggaran norma tersebut. Di dalam organisasi tersebut terdapat anggota yang pacaran dengan sesama anggota. Mereka sering memisahkan diri dari anggota lain untuk pacaran atau bahkan berlaku mesra di hadapan anggota lainnya. Perilaku ini merupakan perilaku yang tidak diharapkan di dalam organisasi karena selain mengganggu kenyamanan suasana kerja juga menurunkan kinerja anggota lainnya yang merasakan ketidaknyamanan suasana tersebut

d. Status
Di dalam organisasi terdapat status tertentu, mulai dari yang rendah hingga ke tinggi. Orang akan bekerja sama lebih lancar jika yang berstatus lebih tinggi dapat membangkitkan tindakan pada yang berstatus lebih rendah. Misalnya dalam organisasi “KASIH” ini mulai dari anggota, koordinator kegiatan hingga pemimpin. Pemimpin seharusnya dapat memahami anggota sesuai dengan kemampuan anggota yang dibawahi sehingga anggota merasa dibutuhkan. Pimpinan organisasi “KASIH” menurut kasus diatas sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan. Kebijakan yang dihasilkannya sering tidak sesuai dengan kemampuan anggotanya secara keseluruhan sehingga banyak keluhan dari bawahannya. Hal ini menyebabkan tidak lancarnya hubungan kerja sama antara pmpinan dan bawahan. Selain itu terdapat pula hal terkait dengan sistem formal dan informal di dalam organisasi. Para bawahan tidak lansung menyampaikan pendapat atau keluhannya langsung kepada pimpinan, tetapi melalui orang tertentu yang statusnya sedikit lebih tinggi dari anggota namun tidak lebih tinggi dari pimpinan. Dalam hal ini, di dalam organisasi ”KASIH” memiliki koordinator kegiatan yang menjembatani komunikasi antara anggota dengan pimpinan.


e. Ukuran
Ukuran suatu kelompok mempengaruhi perilaku keseluruhan dari kelompok itu tetapi efeknya bergantung pada variabel mana yang diperhatikan. Kelompok yang besar sangat baik untuk memperoleh masukan yang beraneka, tetapi kelompok kecil lebih baik dalam melakukan sesuatu yang produktif dengan masukan tersebut. Organisasi “KASIH” memiliki 22 orang anggota. Dalam hal ini organisasi tersebut tergolong pada suatu kelompok yang besar. Kelompok yang besar ini mengalami perpecahan sehingga kelompok yang seharusnya efektif dan produktif dalam melaksanakan tugas oranisasi mengalami penurunan kinerja. Setelah terpecah berdasarkan profesi yang sama, situasi tidak nyaman juga terjadi di antara sesama anggota tersebut sehingga ikut menghambat kegiatan organisasi.

f. Kepaduan
Merupakan tingkat dimana anggota-anggota kelompok satu sama lain saling tertarik dan termotifasi untuk tetap berada dalam kelompok. Kepaduan dan produktivitas sangat erat kaitannya tergantung pada norma-norma yang berkaitan dengan kinerja yang dibangun oleh kelompok. Pada awalnya organisasi “KASIH” ini produktif, karena seluruh anggota berinteraksi dengan baik dan menghabiskan sejumlah besar waktu bersama. Namun setelah setahun, kepaduan ini berkurang akibat perpecahan, kurangnya interaksi antara anggota kelompok secara keseluruhan. Hal ini juga berdampak pada situasi kerja yang tidak nyaman dan mempengaruhi motivasi kerja dari masing-masing anggota.

4. Proses kelompok
Perilaku kelompok dalam organisasi “KASIH” di atas tidak terlepas dari proses kelompok yang merupakan aktivitas penunjang bagi berjalannya struktur organisasi. Dalam proses kelompok ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencapai tujuan organisasi, yakni pola komunikasi, proses pengambilan keputusan, kepemimpinan, dinamika kekuasaan, juga manajemen stress dan konflik.

a. Pola komunikasi
Dalam kasus di atas terdapat masalah dalam pola komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Namun, komunikasi yang menyenangkan antar anggota kelompok pada akhir tahun pertama pada kasus organisasi “KASIH” ini dirasakan tidak berjalan dengan baik, sehingga diskusi yang mereka lakukan pun seringkali diwarnai dengan konflik.
Selain itu salah satu faktor yang dapat menumbuhkan terciptanya pola komunikasi interpersonal yang baik adalah adanya rasa empati yakni terbangkitnya afeksi didalam memahami sudut pandang orang lain. Namun hal ini kini tidak lagi ditemukan pada akhir tahun pertama, terbukti ketika diskusi-diskusi mengenai kasus atau masalah yang adapun tidak pernah dilakukan bersama lagi. Beberapa kali pernah dicoba, tetapi yang terjadi adalah diskusi dan debat yang tak memecahkan masalah, karena masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain.

b. Proses pengambilan keputusan kelompok
Proses pengambilan keputusan (decision making) merupakan pemilihan tindakan dari beberapa alternative yang ada dalam kelompok. Hal ini merupakan inti dari perencanaan. Sebuah rencana tidak dapat dikatakan ada kecuali sebuah keputusan sudah dibuat. Proses pengambilan keputusan tersebut bisa dianggap sebagai premising, pengidentifikasian alternatif-alternatif, pengevaluasian alternatif-alternatif dalam rangka mencapai tujuan dan pemilihan sebuah alternatif.
Dalam kasus organisasi “KASIH” di atas, tujuan tidak akan tercapai bila tidak ada keputusan yang diambil. Sangat disayangkan bahwa dalam kasus tersebut pada proses pengambilan keputusan tidak terjadi hal-hal yang harusnya dilakukan seperti pengidentifikasian alternatif-alternatif, pengevaluasian alternatif-alternatif dalam rangka mencapai tujuan sehingga berdampak pula pada penurunan kinerja organisasi secara keseluruhan. Hal ini terlihat saat pimpinan (manajer lapangan) sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan (tidak mengidentifikasi masalah dan alternatifnya) serta mengambil keputusan tanpa pengevaluasian alternatif-alternatif. Pengambilan keputusan oleh manajer lapangan ini dirasakan tidak sesuai oleh koordinator kegiatan. Sehingga berpengaruh pada perilaku kelompok dan penurunan kinerja organisasi secara keseluruhan.

c. Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan masalah sentral dalam organisasi. Dalam kasus organisasi “KASIH” di atas, maju mundurnya organisasi, dinamis statisnya organisasi, tumbuh kembangnya organisasi, mati hidupnya organisasi, tercapai tidaknya tujuan organisasi, termasuk model perilaku dalam kelompok pun ditentukan oleh tepat tidaknya kepemimpinan yang diterapkan oleh manajer lapangan dalam kelompok.
Merujuk pada teori Gaya Kepemimpinan menurut White dan Lippit (1960), gaya kepemimpinan yang dianut oleh manajer lapangan dalam organisasi di atas adalah gaya kepemimpinan otoriter. Dimana keputusan dan kebijakan seluruhnya ditentukan oleh manajer lapangan tersebut. Gaya kepemimpinan otoriter ini tidak cocok bila diterapkan dalam kasus organisasi “KASIH” tersebut. Hal ini tercermin dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer lapangan dianggap tidak sesuai oleh koordinator kegiatan, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya. Kondisi tidak nyaman itu tidak hanya dirasakan oleh para koordinator kegiatan, tetapi dirasakan juga oleh semua anggota organisasi, sehingga suasana dalam organisasi menjadi sangat tidak nyaman untuk bekerja dan berdampak menurunnya kinerja organisasi secara keseluruhan.

f. Dinamika kekuasaan
Dinamika kekuasaan identik dengan bagaimana proses kepemimpinan yang terjadi dalam suatu organisasi. Terkait dengan kepemimpinan yang terdapat dalam kasus diatas, kekuasaan yang tertinggi dimiliki oleh pemimpin organisasi, dimana pemimpin dari organisasi tersebut memiliki kekuasaan untuk mengarahkan para anggotanya. Namun, kekuasaan tersebut tidak digunakan dengan baik oleh pimpinan organisasi, hal itu terlihat saat pimpinan (manajer lapangan) sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya.

g. Manajemen stress dan konflik
Dalam kasus diatas, tidak terlihat adanya manajemen stress dan konflik yang baik. Stress atau adanya ketegangan yang terjadi antar para anggota kelompok dalam organisasi “KASIH” diatas terlihat saat anggota kelompok organisasi tersebut mulai menunjukkan adanya gejala perpecahan. Namun, walaupun sudah tampak adanya gejala perpecahan, pihak organisasi tidak melakukan tindakan penanganan secara dini untuk mengatasi situasi stress yang ada. Selain itu, dalam kasus diatas terlihat beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi munculnya konflik dalam kelompok, faktor-faktor tesebut adalah expressed struggle, interdependence, dan incompatible behavior. Expressed struggle terlihat saat diskusi yakni saat masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain, Interdependence terlihat saat masing – masing profesi mau berjalan sendiri dan tidak lagi memperhatikan profesi yang lain dan Incompatible behavior terlihat saat diskusi dimana bebrapa kali terjadi debat yang tidak memecahkan masalah serta tidak jarang situasi mengarah pada konflik yang diwarnai oleh reaksi-reaksi emosi negatif .

5. Kinerja kelompok
Interaksi antar unit kerja dalam suatu suatu kelompok menentukan bagaimana kinerja kelompok yang dihasilkan dalam kelompok tersebut. Dengan kata lain, interaksi menentukan seberapa jauh suatu kelompok dapat memenuhi kebutuhannya melalui keberhasilan mereka di dalam mencapai goal (efektifitas kelompok). Terkait dengan kasus diatas, terlihat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi menunrunnya kinerja organisasi secara keseluruhan yang terjadi setelah satu tahun berjalannya organisasi, yaitu :
1) Tidak adanya kejujuran antara para anggota kelompok, dimana anggota yang merasa terganggu oleh adanya anggota lain yang berpacaran tidak segera menegur atau memberitahu secara baik-baik terhadap anggota yang berpacaran tersebut.
2) Tidak adanya kualitas hubungan yang baik, dimana masing – masing profesi mau berjalan sendiri dan tidak lagi memperhatikan profesi yang lain
3) Tidak adanya komunikasi yang baik antara para anggota, dimana hal tersebut terlihat saat sedang berlangsungnya diskusi dimana terjadi perdebatan yang tidak memecahkan masalah yang disebabkan karena masing-masing orang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan tak mau mencoba mengerti atau memahami yang lain.
4) Kurangnya kemampuan pemimpin organisasi dalam memahami masalah yang ada dilapangan sehingga mengakibatkan dan pengambilan keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya. Hal tersebut menyebabkan koordinator kegiatan harus menghadapi keluhan dari anak buahnya karena tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaan disiplin ilmu mereka.












BAB IV
KESIMPULAN

Dilihat dari perspektif psikologi sosial, masalah-masalah yang muncul dalam kasus organisasi “KASIH” diatas disebabkan karena kurangnya interaksi antar unit kelompok yang terdapat dalam area masalah perilaku kelompok. Perilaku kelompok ini dipengaruhi oleh kondisi eksternal, sumber daya anggota kelompok, struktur kelompok, proses kelompok, dan kinerja kelompok
Masalah yang berkaitan dengan kondisi eksternal yang dikenakan terhadap organisasi “KASIH” tersebut adalah dalam hal strategi organisasi dimana setelah satu tahun berjalannya organisasi ini, terlihat adanya perilaku-perilaku kelompok yang tidak sesuai dengan strategi dalam mencapai tujuan, lalu dalam hal peraturan formal dimana tidak terlihat adanya peraturan formal yang dibuat oleh organisasi “KASIH” kepada semua anggota kelompoknya, sehingga menyebabkan perilaku anggota kelompok tersebut tidak konsisten dalam melakukan pekerjaannya, tidak berfungsinya sumber daya organisasi, evaluasi kinerja dan sistem ganjaran serta budaya organisasional yang ada dalam kelompok.
Masalah yang berkaitan dengan sumber daya anggota kelompok adalah dalam hal kemampuan serta karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh anggota kelompok dimana kedua hal tersebut terlihat kurang efektif dalam menghasilkan interaksi yang baik dalam kelompok.
Masalah yang berkaitan dengan struktur kelompok adalah kepemimpinan formal, peran, norma, status, ukuran serta kepaduan. Kepemimpinan formal yang ada dalam organisasi “KASIH” tersebut kurang memainkan peranan dalam menghasilkan keberhasilan kelompok begitu juga dengan peran pemimpin yang kurang memperlihatkan peran pemimpin yang seharusnya dimana pemimpin seharusnya dapat menghasilkan kebijakan yang baik bagi seluruh bagian dari organisasi selain itu juga peran koordinator kegiatan yang seharusnya dapat menjadi penghubung yang baik antara pimpinan dengan anggotanya. Begitu pula dengan norma, status ukuran serta kepaduan yang terdapat dalam organisasi tersebut tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan kurang efektifnya interaksi yang terjadi antar unit kelompok.
Masalah yang berkaitan dengan proses kelompok tidak terlepas dari pengaruh perilaku kelompok dalam mencapai tujuan organisasi, yakni pola komunikasi, proses pengambilan keputusan, kepemimpinan, dinamika kekuasaan, juga manajemen stress dan konflik.
Masalah dalam hal pola komunikasi yang terdapat dalam kasus diatas adalah dalam hal komunikasi interpersonal, komunikasi interpersonal yang menyenangkan antar anggota kelompok pada akhir tahun pertama pada kasus organisasi “KASIH” ini dirasakan tidak berjalan dengan baik, sehingga diskusi yang mereka lakukan pun seringkali diwarnai dengan konflik.
Masalah dalam hal proses pengambilan keputusan kelompok dalam kasus organisasi “KASIH” ini terlihat saat pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin tidak melalui proses identifikasi dan evaluasi alternatif-alternatif, sehingga mengakibatkan koordinator kegiatan menganggap keputusan yang diambil tersebut tidak sesuai.
Masalah dalam hal kepemimpinan terlihat saat pemimpin memberikan keputusan yang mana hal tersebut harus dilaksanakan oleh anggotanya tanpa adanya kompromi atau perundingan dengan anggota kelompok.
Masalah dalam hal dinamika kekuasaan terlihat saat kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin tidak digunakan dengan baik oleh pimpinan organisasi tersebut, hal itu terlihat saat pimpinan (manajer lapangan) sering tidak memahami masalah yang ada dilapangan dan mengambil keputusan yang menurut koordinator kegiatan tidak sesuai, tetapi karena keputusan pimpinan maka para koordinator kegiatan sekalipun dengan kesal atau berat hati tetap harus melaksanakannya.
Masalah dalam hal manajemen stress dan konflik terlihat saat organisasi tersebut mulai menunjukkan adanya gejala perpecahann namun walaupun sudah tampak adanya gejala perpecahan, pihak organisasi tidak melakukan tindakan penanganan secara dini untuk mengatasi situasi stress yang ada.
Masalah yang terdapat dalam kinerja kelompok terlihat saat terjadi penurunan dalam kinerja organisasi “KASIH” tersebut dimana terjadinya penurunan kinerja organisasi tersebut disebabkan oleh beberapa hal yaitu tidak adanya kejujuran antara para anggota kelompok, tidak adanya kualitas hubungan yang baik, tidak adanya komunikasi yang baik antara para anggota, serta kurangnya kemampuan pemimpin organisasi dalam memahami masalah yang ada dilapangan. Seluruh masalah tersebut merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya masalah interaksi antar unit kelompok yang terjadi dalam kasus organisasi “KASIH”.

DAFTAR PUSTAKA

O. Sears, David., Freedman, Jonathan L., & Peplau, L. Anne. 1991. Psikologi Sosial Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Robbins, Stephen P. 2001. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Prenhallindo.

Rakhmat, Jalaluddin. (2003). Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

http://lukmancoroners.blogspot.com/2010/05/perilaku-organisasi.html
(diunduh tanggal 19 Oktober 2010, pukul 21.24)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar