Jumat, 08 Oktober 2010

WORKING BEHAVIOUR ( Perilaku Kerja )

A. Definisi

Perilaku kerja merupakan tindakan dan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang bekerja.

1. Perilaku Kerja menurut Bond and Meyer (1987 : 40 )
Perilaku kerja yaitu kemampuan kerja dan perilaku-perilaku dimana hal tersebut sangat penting di setiap pekerjaan dan situasi kerja.

2. Perilaku Kerja menurut Robbins (2002 : 35 dan 39 )
Perilaku kerja yaitu dimana orang-orang dalam lingkungan kerja dapat mengaktualisasikan dirinya melalui sikap dalam bekerja. (Robbins menekankan pada sikap yang diambil oleh pekerja untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan di lingungan tempat kerja mereka).

3. Definisi yang lain menyebutkan bahwa perilaku kerja merupakan kemampuan kerja dan perilaku-perilaku darai para pekerja dimana mereka menunjukkan tindakan dalam melaksanakan tugas-tugas yang ada di tempat mereka bekerja.

B. Pentingnya perilaku kerja

Kerberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ternyata ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Oleh karena itu diupayakan untuk membentuk perilaku kerja yang konsisten dan positif. Menurut Sinamo (2002), ada delapan paradigma di tingkat perilaku kerja yang sanggup menjadi basis keberasilan baik di tingkat pribadi, organisasional maupun sosial, yaitu :
a. Bekerja tulus,
b. Bekerja tuntas,
c. Bekerja benar,
d. Bekerja keras,
e. Bekerja serius,
f. Bekerja kreatif,
g. Bekerja unggul, dan
h. Bekerja sempurna.

C. Perilaku kerja menurut gender

Menurut Gray (2002: 401), mengemukakan bahwa antara pria dan wanita harus mengetahui bahwa perbedaan gender bisa mempengaruhi perilaku kerja mereka. Tanpa disadari oleh kaum pria dan wanita, banyak ucapan atau perilaku yang dianggap wajar oleh masing-masing gender dapat menyinggung perasaan dan harga diri lawan jenis. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan konflik yang ujung-ujungnya juga dapat mempengaruhi perilaku kerja serta mengganggu suasana kerja yang nyaman.
Gray (2002: 403) untuk menciptakan perilaku kerja yang baik harus memperhatikan :
1. Komunikasi pria dan wanita,
2. Perasaan di tempat bekerja,
3. Menetapkan batasan dalam tiap perilaku kerja,
4. Mengingatkan berbagai perbedaan yang ada
Kesimpulan:
Perilaku kerja antara pria dan wanita tidak sama. Dalam memahami perilaku kerja menurut gender dibutuhkan komunikasi dan pemahaman yang penuh, sehingga tidak mengakibatkan konflik dalam bekerja.

D. Indikator perilaku kerja

1. Indikator menurut kamus Oxford (2000: 690)
Indikator menurut kamus Oxford is a sign that shows you what something is like or how situation is changing. Yang artinya yaitu suatu petunjuk atau tanda yang menunjukkan bagaimanakah dengan suatu keadaan atau bagaimana suatu situasi berubah-ubah. Di dalam perilaku kerja juga terdapat indikatornya, dimana indikator tersebut juga merupakan hal-hal yang dapat mengukur sampai sejauh mana perilaku kerja dapat berperan di tempat kerja.

2. Indikator perilaku kerja menurut Anthony & Jansen (1984: 41)
Menurut Anthony & Jansen ada indikator yang benar-benar mempengaruhi perilaku kerja, yaitu :
a. Getting along (keramahtamahan)
Menurut kamus idiomatic NTC’s (1993: 291) yaitu (for people or other creatures) to be amiable with one another. Yang artinya ramah terhadap satu dengan yang lainnya. Contohnya yaitu seperti hubungan dengan antar para pekerja dan atasan. Hal ini berarti bahwa suatu hubungan yang ramah dapat mempengaruhi perilaku kerja antar pekerja dan atasan. (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene : 42).

b. Doing the job(melakukan pekerjaan, contoh : kualitas pekerjaan)
Melakukan suatu pekerjaan harus dilakukan dengan baik agar dapat mengukur suatu kualitas pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene : 42).

c. Being dependable (dapat diandalkan, dalam hal ini contohnya ketepatan waktu)
Menurut Oxford Dictionary “being dependable” is that can be relied on to do what you want or need. Yang artinya seorang pekerja harus bisa diandalkan.
Contohnya seperti ketepatan waktu untuk mask kerja atau menghadiri rapat (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

3. Indikator kerja menurut Griffiths
Empat indikator kerja menurut Griffiths (1973: 41 dan 42), yaitu :

a. Social relationships—response to supervision
Seorang pekerja harus memiliki hubungan sosial yang baik dengan pekerja yang lain, dimana masing-masing pekerja harus mengawasi rekan kerja agar bertindak di jalan yang benar dan mengingatkan apabila ada kesalahan. (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

b. Task competence (kemampuan untuk melakukan pekerjaan)
Ada tanggung jawab dan kesadaran dari para pekerja dalam melaksanakan seluruh tugasnya karena mereka memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

c. Work motivation (motivasi kerja)
Adanya kemauan untuk bekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

d. Initiative—confidence (inisiatif—percaya diri)
Menurut kamus Oxford (2000, 699) initiative is the ability to decide and act on your won without waiting for somebody to tell your what to do. Sedangkan menurut kamus Oxford (2000, 272) confidence is a belief in your own ability to do things and be succesfull. Keduanya dapat diartikan yaaitu dalam perilaku kerja yang baik harus memupuk rasa percaya diri yang penuh serta mengambil inisiatif bahwa semua pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan jobdesc yang ada.

4. Indikator perilaku kerja menurut Bryson et al (1997: 41 dan 42)
Empat indikator yang mempengaruhi perilaku kerja menurut Bryson et al, yaitu:

a. Cooperatives—social skills (kemampuan berhubungan sosial)
Menurut Oxford (2000, 270) cooperativeness is involving doing something together or working together with others towards a shared aim. Yang memiliki arti yaitu mengandalkan kemampuan sosial untuk bekerjasama dengan antar para pekerja untuk mencapai suatu tujuan bersama.

b. Work quality (kualitas pekerjaan)
Para pekerja harus menunjukkan kualitas kerja yang baik agar dapat diakuai dan dihargai (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

c. Work habits (kebiasaan kerja)
Kebiasaan kerja dihubungkan dengan perilaku yang positif dan negatif di tempat kerja (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

d. Personal presentation (pengendalian diri, contoh : tidak menjadi mudah marah dan agresif dan tidak berperilaku aneh)
Di tempat kerja harus dapat mengendalikan diri dan menunjukkan pribadi yang profesional dalam bekerja (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

5. Indikator perilaku kerja menurut Tsang & Chiu (2000: 41 dan 42)
Tiga indikator penting yang mempengaruhi perilaku kerja, yaitu :

a. Social behavior (hubungan sosial)
Dapat menunjukkan perilaku sosial yang sesuai dengan aturan dan norma yang ada di tempat kerja (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

b. Vocational skill (keahlian atau jemampuan berdasarkan kejuruan)
Menurut Oxford (2000: 1506) vocational skills is connected with the skills, knowledge. That you need to have in order to do a particular job. Yang artinya hal tersebut berhubungan dengan kemampuan atau pengetahuan. Dan hal tersebut dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan.
Contohnya yaitu kemampuan kejuruan memasak dibutuhkan oleh seorang koko sehingga keahlian memasaknya yang sesuai dengan kejuruan yang diambil diperlukan di tempat ia bekerja.

c. General behavior (perilaku umum)
Perilaku umum yang ditunjukkan akan dapat diketahui untuk mendeteksi perilaku kerja para karyawan (Harry W.C. Michon, Hans Kroon, Jaap Weeghel & Aart H. Schene :42).

E. Faktor-faktor perilaku kerja

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kerja di tempat kerja, yaitu :

1. Lingkungan kerja
Di dalam suatu lingkungan kerja harus benar-benar memberikan rasa aman bagi para pekerja. Para pekerja atau karyawan menaruh perhatian yang besar terhadap lingkungan kerja, baik dari strategi kenyamanan pe\ribadi maupun kemudahan untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Lingkungan fisik yang aman, nyaman, bersih dan memiliki tingkat gangguan minimum sangat disukai oleh para pekerja (Robbins, 2002 : 36).

2. Konflik
Konflik dapat konstruktif atau destruktif terhadap fungsi dari suatu kelompok atau unit. Tapi sebagian besar konflik cenderung merusak perilaku kerja yang baik karena konflik akan menghambat pencapaian tujuan dari suatu pekerjaan (Robbins, 2002: 199).

3. Komunikasi
Dalat memahami perilaku kerja, komunikasi merupakan salah satu faktor terpenting yang berperan sebagai penyampaian dan pemahaman dari sebuah arti (Robbins, 2002: 146).

2 komentar:

  1. cari buku dari pendapat para ahli tersebut dmn yah?

    BalasHapus
  2. judul buku nya donk...skalian pengarang nya...

    BalasHapus